Lembayung Fajar STIE Muhammadiyah Tuban

elf.jpg

PROFIL MAPALA LEMBAYUNG FAJAR

KMengabdi dan Berprestasi

elahiran MAPALA Lembayung Fajar berawal dari kegelisahan sekelompok mahasiswa

STIE Muhammadiyah yang jenuh akan kebekuan kegiatan. Berangkat dari minat yang sama pada kegiatan alam bebas, sekelompok mahasiswa yang terdiri dari Efri Andika dan

Agus S dengan bantuan saudara Edy Toyibi S.Pd mendeklarasikan Mapala Lembayung Fajar pada tanggal 26 maret 2004 arti dari Lembayung Fajar seberkas sinar merah dipagi hari, sinar yang mengisyaratkan datangnya kehidupan atau semangat dan saudara Efri Andika menjadi ketua umum yang pertama.

DIKLATSAR yang pertama terdiri dari Cecep R,diklatsar II terdiri dari Martha, Supi’i, M.Reza Fahmi, dan saudara Martha menjadi ketua umum kedua, DIKLATSAR III terdiri Musa dan Kasan yang berhasil menjadi anggota penuh Musa, DIKLATSAR IV terdiri Husna, Ina, Rina, Lukman serta DIKLATSAR lanjutan IV terdiri dari Afli, Siska, Linda dan yang menjadi anggota penuh Husna, Ina, Siska, Linda, dari segi kuantitas memang kurang ideal tapi dengan tekad dan semangat kuat mereka bekerja sama membangun sebuah organisasi yang baru seumur jagung.

Di tengah perjalanan visi dan misi yang awalnya selalu pada kegiatan petualangan mulai bergeser, kerusakan lingkungan hidup, pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan, ketidak adilan ekologis, baik itu dari kebijakan pemerintah yang timpang maupun ulah manusia itupun sendiri, semakin menggelisahkan.Sehingga akhirnya misi pelestarian lingkungan dijadikan pilar utama kegiatan, sementara kegiatan petualangan tetap dilakukan bukan sebagai tujuan, tetapi lebih sebagai sarana mencintai alam dan meraih prestasi.

Dengan bermodalkan sumber daya manusianya Mapala Lembayung Fajar mulai merambah semua kegiatan, termasuk pemberdayaan manusia lewat progam pengabdian kepada masyarakat serta kegiatan penelitian yang punya kegiatan konservasi. Untuk sementara, memang hanya inilah yang bisa kami lakukan. Tapi kami percaya ibarat ilalang, apa yang kami lakukan tidak akan begitu saja tercabut. Sebab akar ilalang kuat. Ujung – ujungnya menghujam ke tanah. Kami akan terus menanam ilalang – ilalang itu, terus berkegiatan, berdinamika mengabdi. Sebab bagi kami, berhenti berarti mati.

filof1.jpg


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.